Pada rutinitas pagi sebelum ngantor dan setelah “nongkrong” , saya menjelajah tumpukan berita “on line” yang saya kelola lewat RSS di portable Mac saya ….
Berita yang cukup menarik adalah Microsoft akhirnya mengumumkan “counter” nya terhadap Google yang beberapa minggu lalu menghangatkan persaingan dengan mengumumkan pengembangan dari Chrome Operating System …
Intinya adalah satu lagi serangan langsung ke bisnis inti dari Microsoft yaitu Windows Operating system beserta dengan perangkat aplikasi kantor nya ( Word, Excel, Outlook, dkk )
Bahan yang nenarik adalah usaha “counter” dari Microsoft tersebut berupa serangkaian “Suport” untuk produk Office nya, yang kini dibawa online atau berbasis web …
Gampangnya mereka menawarkan :
- Document yang bisa diakses dari dan dimana saja selama ada koneksi ke internet.
- Ada fitur “kolaborasi” yang memungkinkan document bisa diedit bersama .
- Document bisa diakses dari perangkat mobille macem smartphone , laptop, atau netbook.
dan masih seperti biasa, sesuatu yang “khas” Microsoft masih muncul dibelakangnya : berbagai macam struktur harga yang membingungkan untuk berbagai macam layanan yang harusnya menjadi usaha “counter” tersebut ..
— Menarik ?? – mungkin , bagi saya semua ini terkesan terlambat dan basi …
Semua fitur tersebut sudah ada pada layanan Google Document sejak beberapa tahun yang lalu, dan GRATIS …
Aplikasi kantor besutan Apple – iWork pun sudah menawarkan hal yang sama sejak 2008 dengan harga yang lebih murah dari Microsoft Office – hanya separuh nya – dengan kualitas yang sedikit lebih baik ..
Bahkan Aplikasi kantor open source seperti Neo Office dan Open Office yang dikembangkan secara swadaya dan benar – benar GRATIS pun sudah memiliki fitur ini dari beberapa tahun yang lalu , 2007 pertengahan kalau saya tidak salah … CMIIW
— Apa yang terjadi ??
Microsoft sebagai sebuah raksasa di bidang teknologi , yang pernah dan saya yakin masih menguasai pasar , menjadi terkesan sangat lambat ….
Lambat dalam berinovasi, lambat dalam membaca dan merespon perubahan , kebutuhan serta perkembangan pasar, dan terkesan semakin tidak jelas mau kemana arah bisnis dan pengembangan produk mereka ..
( dalam hal ini maksud saya pada produk OS Windows dan Aplikasi Office )
Apakah benar bila diumpamakan sebagai individu, Microsoft sudah mulai tua, orang tua dengan keberhasilan yang spektakuler dan dana yang berlimpah ….
Gendut dan tidak lincah karena terlalu nyaman dengan kesuksesannya …
— Pembelajaran bisnis apakah yang bisa kita dapatkan?
Pada era dimana batas – batas semakin menipis, Bisnis Unit dituntut untuk selalu kreatif, peka dan responsif terhadap perubahan dan kebutuhan pasar .
Unit Bisnis atau perusahaan dituntut untuk semakin memperhatikan aspek KREATIVITAS dan INOVASI, tidak melulu hanya pada produk, tapi lebih secara keseluruhan baik pada sisi manajerial, proses produksi, marketing, distribusi … semuanya …
INOVASI harus segera dimunculkan, dan dikelola bila sebuah perusahaan tetap mau bertahan dalam kondisi persaingan dengan batasan yang semakin kabur seperti saat ini …
INOVASI harus segera menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari EFEKTIFITAS dan EFISIENSI.
Kekuatan Modal sudah terbukti bukan lagi menjadi faktor utama, networking pun demikian INOVASI yang mendorong Responsivitas terhadap perubahan menjadi penting juga untuk diperhatikan …
Saya teringat sebuah cerita tentang penjual mie ayam dan web designer
Ada seorang penjual Mie Ayam yang sudah sangat terkenal di Jogja, sebut saja Mie Ayam Pak Tapir, konsumennya sangat banyak, sebagian bahkan ada yang termasuk kategori die hard fans, lalu ada seorang pelanggan Mie Ayam Pak Tapir, sebut saja namanya Meol , dia penggemar berat mie ayam dan ayam – ayam yang lain, dia berprofesi sebagai web designer dan web developer, internet base lah kerjaan nya..
Suatu hari si Meol yang gemar berpetualang ini menemukan ada mie ayam di daerah Bantul, daerah pinggiran kota Jogja, ternyata lebih enak dari Mie Ayam Pak Tapir, tetapi belum ter ekspose dan terkelola dengan baik …
Lalu si Meol menawarkan kerjasama dengan menjadi pemodal untuk Mie Ayam Bantul ini, oleh Meol dipasarkan Mie Ayam Bantul ini lewat Situs Web Kuliner yang dibangunnya, di garap promosinya dan ….
JRENGGG …. Mie Ayam Bantul kampung itu berubah drastis “Go” internasional karena pemasaran berbasis web …
Pasar yang Pak Tapir ndak akan pernah bisa jangkau dengan managementnya …
Pak Tapir masih belum sadar dan bahkan wangsitpun belum dapat tentang ancaman ini …
Perlahan beberapa pelanggan Pak Tapir pun mulai ada yang membaca Situs Web Kuliner milik Meol dan mencoba Mie Ayam Bantul … dan memang lebih enak dari Mie Ayam Pak Tapir …
Perlahan Mie Ayam Pak Tapir mulai menurun dan kehilangan pelanggan, tanpa Pak Tapir penah tau bahwa semua berawal dari seorang Web Developer yang ironisnya justru pelanggannya sendiri …
Nilai Moralnya :
- Penjual mie ayam dan web designer …. hmm sekarangpun bisa menjadi rival bisnis …
- Bahkan pelanggan kita sendiri bisa menjadi peluru kematian kita ….
- Sekuat apapun modal dan brand merek “Pak Tapir” kalau dia tidak berinovasi, dalam hitungan bulan, usaha puluhan tahun yang dia bangun akan sia – sia …
Jadi akankah kita tetap enggan berinovasi ??
Masih sombong dan percaya dengan kekuatan modal, relasi, jaringan , atau bahkan warisan ??
Pada tulisan berikutnya akan saya bahas bagaimana mengelola inovasi di dalam perusahaan .