World of Yudha

Entries from February 2009

Basic Marketing untuk Small Business

February 22, 2009 · 2 Comments

Haluw, weekend ini saya coba manfaatkan untuk menulis sesuatu yang memang menjadi satelite di seputar hidup saya, atau di core competencies yang saya punya di bidang IT – Apple – Marketing and Blues he he he …

Saat ini saya berada pada fase untuk membangun kembali sebuah Bisnis Kecil yang saya cita – citakan akan menjadi besar kembali. Salah satu sisi yang cukup penting dan menjadi perhatian adalah sisi marketing – pemasaran, dan kebetulan saya juga sedang belajar Marketing di MM UGM
Karena bisnis yang sedang saya rintis ini dapat dikategorikan sebagai Bisnis Kecil – Small Busines, maka sudah tentu strategi marketing yang harus saya terapkan adalah strategi yang memang diperuntukan bagi SmallBizz.

Setalah browsing ke banyak tempat, dan membuka catatan – catatan kuliah saya, akhir nya saya memperoleh berbagai bahan yang bisa menjadi dasar untuk menyusun strategi marketing yang akan saya gunakan untuk bisnis kecil yang sedang saya bangun …
Nah disini saya akan coba berbagi,

Inti dari marketing sebenarnya adalah
“bagaimana memahami kebutuhan konsumen atau pasar, dan membangun sebuah rencana seputar pemenhan terhadap kebutuhan tersebut” – ringkasan dari berbagi sumber dan pengalaman.

Bagi bisnis kecil, impiannya adalah menjadi besar dan cara yang paling efektif untuk menjadi besar adalah dengan berfokus pada apa yang disebut sebagai “organic growth” – pertumbuhan yang dicapai dengan berfokus pada peningkatan produksi dan penjualan.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh :
1. mendapatkan lebih banyak konsumen
2. mengejar setiap konsumen untuk membeli lebih banyakproduk
3. mengejar konsumen untuk membeli produk yang lebih mahal lagi
4. mengejar konsumen untuk membeli produk yang lebih profitable

Semuanya akan meningkatkan pendapatan dan keuntungan kita, tetapi akan lebih baik bila kita fokus pada pilihan pertama, karena dengan menambahkan jumlah konsumen ataupun calon konsumen, kita meningkatkan customer “base” kita dan secara otomatis pula keuntungan / profit akan datang dari “base” yang lebih besar.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah :
“Bagaimana kita menggunakan marketing untuk mendapatkan lebih banyak client atau pelanggan?”

Kita bisa melakukan :
1. research sederhana dan menciptakan rencana marketing yg strategis
2. memperkenalkan produk kita sampai pada konsumen yg sebelumnya tidak menarik untuk kita
3. memberikan harga yang kompetitif pada produk dan service yg kita berikan
4. fokus pada solution marketing ( pemberian solusi ) bukan pada hard selling

Selanjutnya penentuan Target Pasar yang pas untuk Bisnis Kecil :

pilihlah pasar yang memang benar – benar potensial dan mampu kita layani,
ex.
saat ini kapasitas saya untuk memberikan pelayanan jual dan purna jual yang baik, pada sekolah dengan kapasitas pemesanan 10 unit per bulan. Jangan kita memaksakan mengejar pasar dengan kapasitas 500 unit per bulan, kecuali bila memang kita benar – benar yakin dan mampu untuk menangani pasar tersebut.
Dampak bila kita memaksakan, pelayanan yang akan kita berikan akan berkurang kualitasnya dan untuk jangka panjang ini tidak akan baik.
Jangan serakah dan berpikirlah jangka panjang, ini inti dari pemanfaatan sebuah strategi.
Perlu dipikirakan juga untuk mengutamakan pasar yang mampu meberikan hasil atau pemesanan yang berkesinambungan.

Hal yang sangat penting berikutnya adalah masalah dana – budget marketing:

Small business sangat berbeda dengan Big Business, budget marketing dari small business kadang sangat kecil atau bahkan tidak ada … Tapi bukan berarti bahwa tidak bisa sama sekali melakukan marketing … Lalu bagimana ? Apa yang harus dilakukan

Kunci utamanya terletak bukan pada “seberapa besar dana – budget yang disediakan, tetapi lebih kepada seberapa efektif kita memanfaatkan budget atau peluang yang ada untuk memasarkan atau melakukan kegiatan marketing”

1. kita bisa melakukan proses marketing bersamaan dengan proses penjualan.
2. banyak media Gratis yang bisa kita gunakan untuk marketing, Facebook misalnya
3. berikan palayanan maksimal kepada setiap client, konsumen yang puas akan menjadi marketer kita
4. mulai memandang bahwa konsumen bukan hanya sebagi sumber profit, tetapi alat marketing juga

Nah bila kita sudah memahami dasar – dasarnya, saya rasa akan cukup mudah untuk melangkah.
Tulisan ini juga bisa menjadi marketing untuk saya pribadi misalnya … he he he …

Mari kita berkembang dan maju bersama, bila tertarik mari kita berdiskusi,
feel free untuk menghubingi saya via email di

Yudhaworld@gmail.com
Ym – Yudhaworld@yahoo.com
Semoga tulisan ini membawa pencerahan.

Next saya akan mencoba menyelesaikan TESIS saya yang terbengkalai … ha ha ha dan menulis hubungan antara Marketing – Apple – IT dan Blues Music.

Salam.

Categories: Bulb World

Belajar dari Google . . .

February 10, 2009 · 1 Comment

Baru – baru ini sebuah artikel menarik diterbitkan Businessweek. Artikel itu membahas , dan membuat semacam review terhadap sebuah bukku berjudul “What Would Google Do ?” yang saat ini cukup laris manis terjual dan menjadi best seller.
Pada intinya adalah buku tersebut mengulas , strategi – strategi apakah yang digunakan oleh Google, yang bisa dipelajari dan bisa dicoba diimplementasikan pada industri – industri lain, sebagai sebuah cara untuk meningkatkan daya tahan menghadapi krisis yang melanda saat ini – dalam tulisan ini digunakan industri otomotif America yang saat ini menerima pukulan paling berat dari krisis sebagi contoh case nya.
Dari ulasan yang cukup panjang tersebut ada beberapa point yang cukup menarik yang saya coba rangkum, dimana menurut pendapat saya point – point tersebut cukup universal dan bisa diterapkan dalam banyak jenis industri dan bisnis, bahkan tidak menutup kemungkinan dalam pengembangan pribadi kita. Oke, kita mulai saja.

MANAGE ABUNDANCE, NOT SCARCITY
Businesses like airlines and Broadway theaters profit from controlling the scarcity of their product. But the Internet kills scarcity. Google understands how to benefit from abundance. The more content for it to organize and the more sites where it can place ads, the better. Amazon has a similar approach, offering customers more books and CDs than could ever fit in one physical store.
Cukup menarik, intinya adalah bagaimana kita bisa semakin memperkaya content atau “kandungan” dalam bisnis kita. Ex. Sebuah toko komputer, mereka dapat terus menambahkan katalog produk yang mereka miliki, bila sebelumnya hanya 5 merek, bisa ditambahkan menjadi 10 merek , sebelumnya hanya 2 jenis layanan bisa ditambahkan menjadi 5 jenis layanan. Sebagai individu kita juga dapat memperkaya content atau kandungan nilai yang kita kuasai. Tidak hanya seorang sarjana yang paham seluk beluk marketing, wawasan yang luas, menguasai berbagai macam bahasa, komputer basic, yang temtunya semua masih berhubungan dengan keahlian utama. Akan tetapi yang terpenting adalah untuk tetep memperkuat core competencies yang telah dimiliki dan fokus pada tujuan. Karena jangan sampai proses pengayaan ini justru membuat bias. Penting dan wajib pula proses “pengayaan” ini tetap sejalur dengan core competance yang dimiliki. Google tetap konsisten memberikan layanan semakin baik pada core bisnisnya “search engine”, disamping terus menambahkan kelebihan – kelebihan yang lain untuk memperkuat core competance nya, seperti Chrome Brwoser, Google Docs, dsb yang semua masih terhubung dengan core competance dari Google itu sendiri.

MAKE MISTAKES WELL
Mistakes can be valuable, if you can learn from them. Google releases most products in “beta,” meaning they’re not quite finished. Then it incorporates feedback to come up with improvements. Procter & Gamble CEO A.G. Lafley says he wants to keep the company’s rate of failure with new product launches at about 40% to 50%. He thinks it encourages employees to think ambitiously and take risks.
Belajar dari kesalahan. “Kesalahan adalah guru yang terbaik”. Selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola resiko yang timbul akibat kesalahan tersebut, disitulah kunci utamanya. Wright bersaudara – penemu pesawat terbang, tau bahwa mereka melakukan percobaan untuk belajar dari kesalahan dengan resiko yang sangat tinggi, mereka berusaha mengelola resiko seminimal mungkin, dengan melakukan percobaan penerbangan di tanah yang lunak , berumput, serta datar, sehingga bila jatuh dapat mengurangi resiko yang ada. Demikian juga dalam berbisnis, ada baiknya untuk selalu mengembangkan diri dan belajar dari kesalahan yang ada. Jangan takut untuk salah.

GIVE UP CONTROL
Companies need to give up control to outsiders to reap the benefits of their input. Google does this through beta launches and other user feedback. Dell tried a similar tack in 2007, after a flood of criticism over poor customer service. CEO Michael Dell launched a Web site to get customers’ ideas, and Dell executives reached out online to bloggers. The openness led to a customer service overhaul; the negative buzz declined.
Berbagilah kontrol terhadat orang luar, terutama konsumen. Merekalah yang sebenarnya paling tau apa produk seperti apa yang diinginkan dari perusahaan, bukan team R&D perusahaan. Tugas R&D adalah membuat perusahaan mampu mewujudkan keinginan konsumen dan menentukan langkah untuk mengambil profit dari kepuasan konsumen. Sama hal nya dengan individu, cobalah untuk menghargai kontrol dari luar, jangan terlalu egois dan individu, karena kadang kita sendiri tidak tau apa yang terbaik untuk kita.

GET OUT OF THE WAY
Google doesn’t tell people how to use its search engine or what to look for. It lets people take control of its technology. Craig Newmark, founder of Craigslist, has done similar things with his Web site. He lets people use the classifieds service in any way they can imagine. Many service providers—in telecom, cable, media, education—could do well to make something useful and then get out of the way

Biarlah konsumen yang menentukan akan dipakai menjadi apakah produk kita. Bukan kita lagi yang harus membantu konsumen untuk menggunakan produk. Apple tidak akan pernah membayangkan bahwa aplikasi yang muncul dengan menggunakan teknologi acelerometer di iPHONE akan menjadi seperti sekarang. Biarlah konsumen yang berkarya, dan jangan lupa, bagilah keuntungan dengan mereka yang telah menyumbangkan ide dan karyanya, karena apapun yang terjadi hubungan saling menguntungkan akan bertahan baik dan lama. Jangan terlalu mendikte bagaimana orang harus memperlakukan, atau bersikap terhadap kita. Cobalah memahami dan mengerti apa yang mereka mau terhadap kita, selanjutnya akan muncul ide – ide yang kadang belum pernah kita pikirkan sama sekali.

LOW PRICES ARE GOOD (FREE IS BETTER)
Google doesn’t charge people to use its search engine. In fact, the fastest-growing Net companies—from Google and Skype to Amazon and eBay—don’t charge what the market will bear. They charge as little as they can bear. With networks of people, the more users you get, the stronger your competitive position. Scale can trump short-term profits.
Berikanlah harga yang terbaik, bukan berati menjual diri. Membahagiakan konsumen dengan harga yang pantas dan murah, tanpa mengorbankan kualitas. Konsumen yang puas akan menjadi loyal konsumen dan akan menjadi papan iklan berjalan. Berpikir untuk keuntungan jangka panjang. Perhitungan mutlak ala Paman Gober dan Hagemaru yang semuanya berbasis pada Cost dan Benefit, saat ini sudah tidak terlalu relevant. Semakin banyak kita memberi, akan semakin banyak kita mendapatkan. Semakin kita berhitung, maka kita akan semakin dihitung.

DON’T BE EVIL
Google’s most famous rule may seem the height of hubris. But founders Larry Page and Sergey Brin say the rule really exists to allow employees to challenge managers on decisions to make sure they are true to the company’s mission. It provides a simple guiding principle for everyone. If only that rule had been etched over every door on Wall Street, perhaps the U.S. wouldn’t be in the mess it’s in now.
Inilah yang paling saya suka dari Google, semboyan ini jauh lebih saya suka dibandingkan Think Different nya Apple. Tantangan terbesar di Indonesia saat ini adalah , semua perusahaan semain mengarah untuk menjadi “All Evil”, dan statistik serta sejarah telah memuktikan bahwa dalam jangka panjang ini tidak baik.

Okew sekian dulu tulisan kali ini, ditulis siang hari sambil memikirkan menu apa yah untuk makan siang kali ini .. Ada ide ?

Tulisan serupa dapat dilihat juga di BLOG saya di www.Yudhaworld.Wordpres.com

Categories: Bulb World

Rahasia Dapur Apple inc.

February 3, 2009 · Leave a Comment

Barangkali banyak dari kita bertanya – tanya , “value” apa yang dianut oleh Apple Inc. – sebagai salah satu leading company di bidang industri teknologi, yang juga mampu bertahan di tengah tengah krisis finansial global yang terjadi saat ini.

Berikut adalah petikan translate dari “earning conference call” yang dilakukan oleh Tim Cook – Chief Operating Officer – Apple Inc. yang saat ini menggantikan posisi Steve Jobs , karena Om Steve sedang dalam “masa pengobatan” sampai bulan Juni 2009 mendatang.

There is an extraordinary breadth and depth and tenure among the Apple executive team, and these executives lead over 35,000 employees that I would call “all wicked smart”. And that’s in all areas of the company, from engineering to marketing to operations and sales and all the rest.
And the values of our company are extremely well entrenched.

We believe that we’re on the face of the Earth to make great products, and that’s not changing.

We’re constantly focusing on innovating.

We believe in the simple, not the complex.

We believe that we need to own and control the primary technologies behind the products we make, and participate only in markets where we can make a significant contribution.

We believe in saying no to thousands of projects so that we can really focus on the few that are truly important and meaningful to us.

We believe in deep collaboration and cross-pollination of our groups, which allow us to innovate in a way that others cannot.

And frankly, we don’t settle for anything less than excellence in every group in the company, and we have the self-honesty to admit when we’re wrong and the courage to change. And I think, regardless of who is in what job, those values are so embedded in this company that Apple will do extremely well.

Dari kutipan diatas ada beberapa kata kunci yang bisa disarikan :
1. great product
2. simple not complex
3. need, own and control primary tech behind the product
4. saying no to thousands of projects so that we can really focus on the few
5. deep collaboration and cross-pollination of our groups
6. focusing on innovating

G r e a t …

Demikian value yang dianut oleh Apple Inc. sampai sejauh ini.
Value ini terbukti sudah berhasil untuk jangka panjang, semoga bisa bermanfaat….

Tulisan ini juga dapat dilihat di FaceBook saya , @ YudhaWorld@yahoo.com …. yuuk mari ….

Categories: Apple World

Rahasia Sukses … ( mungkin … )

February 3, 2009 · Leave a Comment

Sore hari ini sambil nungguin temen – temen yang mau datang membawa pinjaman buku, pikiran saya melayang tentang sebuah banner yang terpampang di apple.com yang menyebutkan bahwa sampai saat ini lebih dari 500 juta aplikasi untuk iPhone dan iPOD Touch telah ter download – jual dari iTunes Stores – sebuah toko online fenomenal milik Apple Inc yang awalnya hanya menjual musik lagu dan album dalam format digital.

Pikiran saya kembali melayang dan mencoba mengetikan beberapa kata ke dalam Google untuk mencoba mencari informasi lebih jauh tentang fenomena ini, dan saya menemukan artikel yang cukup menarik di Businessweek.com berjudul “The Apple Apps Monster” yang menceritakan betapa ide penjualan aplikasi untuk perangkat “Smartphone” oleh Apple ini benar – benar sebuah langkah fenomenal yang sulit untuk ditandingi oleh raksasa – raksasa lain yang bergerak dalam industri sejenis seperti Nokia, Sonny Ericcson dan RIM dengan Blackberry nya yang saat ini sedang naik daun di Indonesia.
Microsoft yang dengan bangganya berkata bahwa lebih baik memiliki Operating System ( windows Mobille ) yang terpasang di hampir 40% dari marketshare dibandingkan harus memproduksi hardware dan software secara bersamaan tetapi hanya menguasai kurang dari 8% marketshare pun saat ini hanya bisa diam melihat fenomena Apple dengan iTunes App Store nya …

Tetapi pertanyaan yang mendasar yang muncul di benak saya adalah :

APAKAH SEMUA INI SUDAH DIRENCANAKAN DARI AWAL ?

Bila memang iya, saya yakin bahwa orang yang bertanggung jawab dibaliknya adalah seorang Visioner dengan strategi dan kemampuan berpikir Super ..

Pertanyaan saya lalu menggelanyut lebih jauh … Apakah Steve Jobs merencanakan ini semua … Apakah Bill Gates pun demikian ? Bagaimana dengan Google ? Facebook ? dan Apakah juga Jimmy Hendrix , Kurt Cobain pernah merencanakan penemuan mereka yang fenomenal di bidang nya ?
Apakah semua pendiri dan pencipta ini memang merencanakan untuk menjadi besar seperti sekarang ini ?

dan saya yakin … Jawabannya adalah TIDAK …..

So bagaimana ini semua bisa terjadi ? Bagaimana ini semua bisa ada ? Apakah saya bisa seperti mereka ?

Peertanyaan demi pertanyaan masih terus berlanjut.
Akhirnya saya coba buat mencari jawaban dengan browsing sana dan sini … Melihat wanita yang berlalu lalang dengan indahnya di Plaza ini dan akhirnya ada sedikit rangkuman yang bisa saya tuturkan, yang mungkin bisa menjadi pedoman bagi saya dan mungkin berguna juga buat yang lain bila ingin seperti Om Steve dan kawan – kawan tersebut.

MULAI DENGAN YANG SEDERHANA DAN KITA SUKA :
Dari semua kisah sukses yang saya baca, semua diawali dari sesuatu yang mereka suka, Om Bil suka sekali dan terpesona dengan yang namanya Pemrograman dan Komputer … Google Guys keranjingan dengan Search Engine yang pada saat itu dilihat sebagai sesuatu yang tidak ada nilai jualnya.
Om Steve terobsesi menggabungkan keindahan design dan teknologi dalam sebuah alat.. Jimi Hendrix dengan kegelisahannya dan Cobain dengan semangat anti kemapanannya….
Semua diawali dari rasa suka, rasa cinta akan sebuah ide dan gagasan .. Sayangnya masih banyak orang Indonesia mengawali segala sesuatu dengan motivasi serakah … mendapatkan hasil yang berlimpah, kekayaan , kemasyuran, jabatan , ketenaran dsb …

FOKUS DAN SETIA :
Walaupun awalnya sayang, cinta dan suka tetapi pada perjalanannya pasti akan menemui halangan , bosan , malas godaan untuk berpindah pada hal lain yang sesaat terlihat lebih menarik dan menguntungkan …

SELALU BERPIKIR KREATIF DAN IMAJINATIF :
Berpikir imajinatif dan kreatif membantu kita selalu meng Upgread produk yang kita cintai atau hasil karya yang kita cintai yang telah kita perjuangkan tumbuh dan berkembang. Penuh dengan inovasi – inovasi baru yang pada akhirnya membuatnya selalu menarik dan unggul.

KONSISTEN DAN LAKUKAN SECARA TERUS MENERUS :
Penting untuk melakuakn perbaikan , inovasi dan pengembangan secara konsisten dan kontinu – berkelanjutan.

Kira – kira itu saja se modalnya, sisanya adalah faktor nasib dan keberuntungan. Tetapi saya yakin, bahwa dengan usaha yang baik dan tulus pasti akan mendatangkan kesempatan yang baik dan tulus juga.
Nah sayangnya saya sendiri menyadari bahwa sikap – sikap diatas memang bukan sikap yang ada dalam genetis bangsa kita, jadi mungkin sudah saat nya kita mulai merenung, berbenah dan berbuat …..

ditulis menjelang malam yang lapar
di Plaza yang besar di Jogja
Ipank melengking dengan gaharnya …

Tulisan ini saya terbitkan terlebih dahulu di FaceBook saya , add saya juga kalau berkenan di Yudhaworld@yahoo.com

Categories: Bulb World